Halaman

Rabu, 10 Mei 2017

Kunjungan Sahabat Yang Memberi Arti Rasa Bersyukur

Sebagai orang kampoeng, banyak hal yang mungkin tidak tergapai selagi muda. Dan yang paling menggoda adalah rayuan kejayaan kota. Hingar bingarnya, gaya hidup, kecanggihan dan segala macam kelebihan kota yang membuatnya menjadi sasaran yang dituju oleh semua lapisan umur, demi mengadu nasib, bertaruh peruntungan. Daya tarik yang sungguh luar biasa bagi Orang Kampoeng.

Tetapi sesungguhnya, daya tarik kota yang sensual telah membuat kita lupa pada pesona alam kampoeng yang eksotik, 

Biarkan gambar bicara mewakili suara alam kampoeng yang bisu. 
Adakah alasan bagi kita untuk mengingkari bahwa sesungguhnya, di hari tua kelak, kita merindukan pelukan alam kampoeng yang membelai hangat tapi memberi kesejukan, udaranya yang segar, kopi hitam kentalnya yang khas, keringat kita yang sehat, keheningannya di malam hari...
bayangkan jika hidup di kampoeng dengan terbebas dari Call Center Finance dan tagihan KPR Bank..

Semoga kelak, kita bisa bersantai di bangku taman, menikmati alam, kopi hitam, pisang goreng lalu tiba-tiba dikejutkan oleh kedatangan anak cucu kita dari kota, yang tak pernah sabar menanti waktu cuti kerja ataupun liburan sekolah... bukankah sebuah berkat, jika kita juga dirindukan...

Singkat saja,
seperti ada lirik lagu yang berbunyi 
"haruskah kita beranjak ke kota, yang penuh tanda tanya?"
mungkin bisa seperti ini... (lirik selanjutnya)
"lebih baik di sini... rumah kita sendiri... dst..
.... segala nikmat dan anugerah Yang Kuasa....
.... semuanya... ada di.... sini..."
DI KAMPUNG

 





























 (All photos property of Pdt. Jhon Tilaar)













Senin, 09 September 2013

Kunjungan Inspirasional Seorang Teman

Hari itu, Sabtu, 24 Agustus 2013 jam 18.00 Wita, Orang Kampoeng mendapatkan kunjungan dari seorang teman yang penasaran. Teman itu berasal dari Manado, Bpk. Yudi, seorang pengusaha yang bergerak di bidang Komputer di salah satu bilangan Mall terkenal di Manado.

Ya, dia penasaran dengan pesona alam Modoinding yang selama ini dilihat hanya lewat berita koran, blog dan media-media internet lainnya.

Dia datang bersama anaknya, Alfa.
Mengusung rasa penasaran pada keindahan alam Modoinding, kesejukan alamnya, dan semangat kerja keras warganya yang terkenal sebagai petani-petani handal.

Well, kembali ke Laptop!
Sesampainya di Modoinding, tepatnya di Desa Makaaroyen, tourist kita ini langsung mengomentari kondisi hawa udaranya yang dingin-dingan enak. Unik dan asyik, katanya.

Menghabiskan waktu bertahun-tahun di Bandung, dia sering ke daerah Lembang, saat menempuh pendidikannya, membuat dia terbiasa dengan kondisi udara yang sejuk dingin.
'Tapi Modoinding beda! Lebih dingin, lebih sejuk dan udaranya jauh lebih bersih dan sehat! Ini kemewahan! Betul-betul kemewahan! Sungguh sebuah anugerah bisa hidup dan menghabiskan masa tua di tempat seperti ini.' demikian komentarnya bersemangat.

Malam itu, kami habiskan dengan banyak membahas masalah suasana alam Modoinding, budaya masyarakatnya, serta membahas kemungkinan-kemungkinan investasi di masa mendatang. Heheheehhe... dasar teman ini memang otak pengusaha, mudah-mudahan penulis bisa 'ta jangke' hoki... :)

Sekira Pukul 24.00 Wita kamipun sudah beranjak ke peraduan masing-masing. Tentunya, dengan bantuan empat lembar selimut tebal bagi 'orang baru' agar tidak menggigil kedinginan saat tidur. Maklum, Thermometer dinding ruangan di rumah penulis menunjukkan angka empat belas derajat Celcius kala itu.

Pagi harinya, tanggal 25 Agustus 2013, dimulai dengan minum kopi untuk membantu tubuh membakar kalori demi menghalau dinginnya hawa udara pagi subuh yang menusuk tulang. Setelahnya, tiga puluh menit kemudian kami lanjutkan dengan sarapan nasi putih dan lauk babi hutan yang dilengkapi dengan aneka sayur khas Modoinding.


Apa yang akan kami lakukan hari ini adalah yang menjadi tujuan kedatangan mereka. Berkeliling wilayah Hortikultura Modoinding, melihat Danau Mooat, dan menonton aksi para cross rider 'KALERO' yang berani dan terampil. Resiko bagi para pengendara dan penumpangnya, tapi menghibur bagi yang melihatnya, apalagi orang dari luar Modoinding.
Transportasi wisata paling asyik, pinjam dari Om Utu Takalawangi

Perlengkapan yang diperlukan sudah disiapkan.Motor 'garo tanah', Kamera Sony Cybershoot, Topi Bareta. Saatnya menemani hunting gambar sang tourist yang penasaran. Waktunya jalan-jalan. Ingat! waktu kita terbatas, karena di hari Minggu mayoritas warganya akan menyisihkan waktu untuk beribadah di gereja-gereja, karena Modoinding adalah wilayah dengan masyarakat religius yang beragama Kristen.

Just take the picture, please!

Sebuah hari yang sangat menyenangkan dan berisi. Karena sejauh mata memandang, semua yang terlihat bisa menjadi obyek foto. Ke barat, ke timur, Selatan dan Utara semuannya inidah. Sangat berkualitas, tertata secara alamiah, dikerjakan secara tradisional, dan dihamparkan dengan cantik oleh kuasa Ilahi.
Inilah Modoinding, Bro! Welcome to 'Taman Eden di Minahasa Selatan'
Untuk Sebuah Memori

Ladang Daun Bawang di Desa Makaroyen

Dari bukit dekat SMK

Memandang alam dari atas bukit


Ladang Daun Bawang di Perkebunan Insil

Ladang Kol

Danau Mooat, dari tepi jalan antara Sinisir - Guaan
Waktunya pulang para petani Modoinding

Hasil Panen

Foto yang paling diburu karena keunikannya... cita rasa Modoinding!



Setelah puas jalan-jalan dan hunting foto di Modoinding, jam 14.00, sang tourist kembali ke Manado.


'Ini adalah pengalaman baru yang akan selalu dirindukan. Di waktu-waktu mendatang, saya pasti akan sering berkunjung ke sini. Mohon maaf sebelumnya, karena pasti saya datang tidak sendiri. Saya akan ajak saudara-saudara, teman dan kerabat saya melihat Modoinding. Tak terkecuali relasi bisnis saya dari Jakarta dan Bandung, supaya mereka tahu bahwa Sulut lebih indah dan lebih subur. Jika dimaksimalkan, ini full satu kecamatan segala sudut pandangnya indah, bukan hanya di tempat-tempat tertentu. Asli satu kecamatan indah sekali. Apalagi kalau sudah ditata dengan maksimal. Hati-hati! Ubud bisa kalah jauh!' demikian komentarnya berapi-api sebelum dia berlalu, menembus udara sejuk Modoinding, berkelok-kelok dan menurun.Si pengelana alam sudah turun gunung.

Datang lagi ya, jangan bosan-bosan, karena orang kampoeng senantiasa menerima siapapun yang mau berkunjung ke Modoinding, apalagi yang berniat baik bagi warga dan alamnya...


Selasa, 23 Juli 2013

Pengucapan : Dodol Syndrom dan Romantisme Kampung Halaman


Pengucapan Syukur atau dalam Bahasa Inggrisnya 'Thanksgiving Day' di seluruh dunia tidak ada yang lebih meriah dan menarik perhatian dibanding 'Thanksgiving Day' nya Minahasa.


Pengucapan Syukur warga Minahasa (Selatan) sudah terkenal sampai ke penjuru dunia, dan sudah menjadi trending topic antar sesama orang 'gunung' kalau bertemu di luar daerah / perantauan.


Biasanya kalimat seperti :' Kalo pengucapan, ngoni mo pulang kampung? di kampung mana kote kang?'
Ini sudah menjadi kalimat pemecah kebekuan bagi orang2 Minahasa yang baru berkenalan.


Tradisi pengucapan syukur yang diadakan setiap tahun, sudah merupakan warisan kebudayaan turun temurun warga masyarakat Minahasa. Sebagai bentuk sukacita dan ucap syukur kepada Tuhan Yang Maha Kuasa atas segala hasil bumi dan kesejahteraan yang boleh dirasakan oleh masyarakat di tanah Minahasa.
Bukan rahasia lagi, bahwa masyarakat Minahasa lebih merayakan secara meriah moment 'Pengucapan Syukur' ini ketimbang moment Tahun Baru. Dan, walhasil, kemacetan pun akan menjadi 'menu' utama pada hari Minggu tersebut. Hal ini disebabkan oleh karena hampir seluruh warga Minahasa yang berada di luar kampung halaman menggunakan momentum tersebut untuk pulang kampung. Bersama-sama merasakan berkat dan suka cita tersebut.
Dan pada saat mereka 'Pulkam' biasanya juga turut serta kerabat, tetangga, teman kantor, relasi bisnis dll untuk turut nyumbang 'macet' sekalian turut 'bembeng dodol deng nasi jaha'. "lebe banya yang pasiar, lebe banya itu muatan dodol deng nasi jaha"

Pada saat2 tersebut, maka berduka citalah segala mahkluk bernyawa yang namanya tidak dapat disebutkan satu persatu. Ini hanya antara lain : satu propinsi babi utang dan babi kota, satu kabupaten anjing mulai dari korotei sampe blang2, dari rambu tabal sampe rambu tasa, satu kecamatan paniki yaki, satu kecamatan tikus ekor putih, patola, kuse, kobos, sogili, soa-soa, ayam bangkok, ayam biasa, ayam budo, mujair, nilem, renga dan kolombi, dll yang susah ditemui di tempat lain, di pengucapan Minahasa semua ada.

Dengan daya tarik yang begitu besar dan magnet romantisme kampung halaman yang luar biasa, janganlah heran kalau setiap moment pengucapan syukur terjadilah kemacetan parah, berkilo-kilo meter panjangnya, dan beribu-ribu kendaraan reuni di satu jalur heheheheh... apakah termasuk anda???

Daftar Blog 'Orang Kampoeng'