Didorong oleh rasa penasaran mengenai Sejarah Minahasa, maka
penulis yang ‘orang kampoeng’ ini dengan bantuan koneksi internet seadanya,
melakukan pencarian literatur bantuan yang bisa dijadikan sebagai acuan
(setidaknya).
Salah satu yang bisa dimuat adalah yang disadur dari
Wikipedia mengenai Sejarah Minahasa. Setelah membaca sekilas, sebagai ‘orang
kampoeng’, penulis merasa bangga karena ternyata ‘kampoeng kita’ Modoinding
merupakan cikal bakal penting berdirinya / terbentuknya Minahasa.
So, jangan mengaku orang Minahasa kalau kita tidak mengenal
Modoinding, ‘kampoeng kita’ yang ternyata bukan hanya dikenal sebagai ‘kampoeng’
dengan berjuta pesona alam, yang limpahi dengan kesuburan tiada tara, tapi juga
memang benar-benar ‘sepenggal eden’ di Minahasa, karena dari ‘kampoeng’ inilah
kemudian orang Minahasa menyebar untuk mendiami dan mengisi setiap jengkal
tanah Minahasa..... sampai saat ini.
Berikut ini sadurannya :
Minahasa berasal dari kata MINAESA yang berarti persatuan,
yang mana zaman dahulu Minahasa juga dikenal dengan nama MALESUNG.
Orang Minahasa dikenal dengan keturunan dari Toar –
Lumimuut.
Sekitar abad I (Pertama) pemukiman leluhur terlebih dahulu
berdiam di sekitar pesisir Likupang, lalu berpindah ke Pegunungan Wulur Mahatus
(Modoinding), wilayah selatan Minahasa, kemudian berkembang dan berpindah ke
Nieutakan (daerah sekitar Tompaso Baru saat ini)
Sejarah Orang Minahasa umumnya ditulis oleh orang-orang
asing yang datang ke tanah ini, yang sebagian besar adalah misionaris gereja.
Beberapa diantaranya : Pdt. Schwarsch,
J. Albr. Schwarz, Dr. JGF Riedel, Pdt. Wilken, Pdt. J. Wiersma.
Dalam sejarah Minahasa, terdapat tiga tokoh sentral terkait
dengan leluhur orang Minahasa, yaitu Lumimuut, Toar, dan Karema.
Karema, dimengerti sebagai ‘manusia langit’, Lumimuut dan
Toar adalah leluhur dan cikal bakal dari orang-orang Minahasa.
Kelompok-kelompok awal orang Minahasa ini (yang mendiami
wilayah selatan Minahasa) kemudian berkembang biak dan bermigrasi ke beberapa
wilayah di tanah Minahasa.
Dalam struktur kehidupan dan tradisi orang Minahasa pada
waktu itu dibagi dalam tiga golongan yaitu :
Makarua Siow (2x9) : para pengatur ibadah dan adat
Makatelu Pitu (3x7) : para pengatur pemerintahan
Pasiowan Telu (9x7) : rakyat
Nama Minahasa itu sendiri menjadi lebih populer pada saat
orang Minahasa berperang secara sporadis melawan Bolaang Mongondow. Diantara para
pahlawan Minahasa dalam perang melawan Mongondow Bolaang adalah : Porong,
Wenas, Dumanauw, dan Lengkong (dalam perang dekat desa Lilang), Gerungan,
Korengkeng, Walalangi (perang dekat Panasen, Tondano), Wongkar, Sayow, Lumi,
dan Worotikan (dalam perang bersama Amurang Bay).
Minahasa secara etimologi yang berasal dari kata Mina dan
Esa (Minaesa atau Maesa) yang berarti jadi satu atau menyatukan, maksudnya
harapan untuk menyatukan berbagai kelompok sub-etnis yang terdiri dari :
Tontemboan
Tombulu
Tonsea
Tolour (Tondano)
Tonsawang
Ponosakan
Pasan
Bantik
Nama Minahasa sendiri baru digunakan belakangan. Palar
mencatat, berdasarkan beberapa dokumen sejarah disebut bahwa pertama kali yang
menggunakan kata ‘minahasa’ itu adalah J.D Schierstein, Residen Manado, dalam
laporannya kepada Gubernur Maluku pada 08 Oktober 1789. ‘Minahasa’ dalam
laporan itu diartikan sebagai Landraad atau ‘Dewan Negeri’ (Dewan Negara) atau
juga ‘Dewan Daerah’
Nama Minaesa juga muncul pada perkumpulan para ‘Tonaas’ di
Watu Pinawetengan (batu pinabetengan). Nama Minahasa yang dipopulerkan oleh
Residen J.D. Schierstein, tanggal 08 Oktober 1789, yaitu sehubungan dengan
perdamaian yang telah dilakukan oleh kelompok sub-etnik Bantik dan Tombulu,
akibat perang yang dikenal dengan nama ‘Perang Tateli’
Adapun suku Minahasa terdiri dari berbagai anak suku atau
Pakasaan yang artinya kesatuan :
Tonsea (meliputi Kabupaten Minahasa Utara, Bitung, dan
wilayah Tonsea Lama di Tondano)
Tolour (meliputi Tondano, Kakas, Remboken, Eris, Lembean
Timur, dan Kombi)
Tontemboan (meliputi Kabupaten Minahasa Selatan, dan
sebagian Kabupaten Minahasa)
Tombulu (meliputi Tomohon, sebagian Kabupaten Minahasa dan
Manado)
Tonsawang (meliputi Tombatu, dan Touluaan)
Ponosakan (meliputi Belang)
Pasan (meliputi Ratahan)
Satu-satunya anak suku yang mempunyai wilayah tersebar
adalah anak suku Bantik (meliputi Meras, Molas, Bailang, Talawaan Bantik, Bengkol,
Buha, Singkil, Malalayang /Minanga, Kalasey, Tanamon, dan Somoit, yang mana
wilayah2nya tersebar di perkampungan pantai utara dan barat Sulawesi Utara)
Masing-masing anak suku Minahasa mempunyai bahasa, kosa kata
dan dialek yang berbeda-beda namun satu dengan yang lain dapat memahami arti
kosa kata tertentu. Misalnya kata Kawanua yang berarti ‘satoe kampoeng’