Halaman

Tampilkan postingan dengan label Minsel. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Minsel. Tampilkan semua postingan

Selasa, 28 Mei 2013

Modoinding Akan Jadi Sentra Pengembangan Bawang Putih Indonesia

Kementerian Pertanian menunjuk Sulawesi Utara sebagai sentra pengembangan bawang putih mulai pertengahan 2013.
"Lokasi yang kami pilih sebagai kawasan pengembangan bawang putih di Sulut adalah Kecamatan Modoinding, Minahasa Selatan," Kata Kepala Dinas Pertanian dan Peternakan Sulut Johanis Panelewen di Manado, Kamis (16/5)
Ia mengatakan, kawasan Modoinding dipilih karena letaknya berada di dataran tinggi, sehingga dianggap paling cocok untuk mengembangkan tanaman tersebut, yang selama ini susah dikembangkan di Indonesia.
Johanis mengatakan, jika nanti pengembangannya berhasil, maka Sulut dapat diproklamirkan sebagai sentra penghasil bawang putih di Indonesia, untuk memenuhi kebutuhan masyarakat di negara ini.
"Bahkan jika nanti pengembangannya berhasil, pemerintah pusat berani membuat regulasi untuk menahan impor bawang putih dari China, yang selama ini kita lakukan," kata Johanis.
Kepala Sub Bagian Penyusunan Program Dinas Pertanian dan Peternakan Sulut Ronny Erungan mengatakan kawasan yang akan dijadikan sebagai lokasi pengembangan tanaman bawang putih  tersebut seluas 10 hektar dan mulai dikembangkan kelompok tani.
Ia mengatakan, sebenarnya kawasan pengembangannya bukan hanya di Modoinding saja, tetapi sampai ke Modayag dan Pasi di Kabupaten Bolaang Mongondow Timur.
"Pemerintah berharap kiranya rencana tersebut, bisa berhasil, sehingga keinginan untuk mengembangkan bawang putih produksi lokal bisa terlaksana, karena akan membawa keuntungan tersendiri bagi negara ini, bukan hanya petani, tetapi sampai pedagang dan masyarakat umum," katanya.
Selama ini, Indonesia hanya mengimpor bawang putih dari China, dan saat ada kendala, akan langsung berimbas di pasaran mulai dari kelangkaan sampai melambungnya harga. (An/WID/ES)

Sumber :
http://www.setkab.go.id/nusantara-8689-sulut-jadi-sentra-pengembangan-bawang-putih.html

Sayur Modoinding Laku di Malaysia dan Filipina

MANADO, KOMPAS.com - Produksi holtikultura Modoinding, Minahasa Selatan, Sulawesi Utara, bergairah setelah sayur mayur mereka terjual di berbagai negara ASEAN. Produksi kentang, bawang daun dan wortel laku di Tawao, Sabah, Malaysia, Dawao di Filipina dan Brunei Darussalam.
Bupati Minahasa Selatan, Christianty Euginia Paruntu bersama Kepala Kecamatan Modoinding, Hansje Monintja di Manado, Selasa ( 2/4/2013) mengatakan, produksi holtikultura semula terjual di Kawasan Timur Indonesia, Toli-toli, Maluku, Balikpapan, Makassar dan Papua.
"Kini banyak pedagang pengumpul melakukan ekspor ke Brunei, Malaysia dan Filipina," kata Paruntu.
Paruntu tak merinci data ekspor holtikultura setiap tahun, tetapi pedagang mengatakan mengirim sayur mayur ke sana. "Mutu kentang dan wortel cukup baik dan tahan lama. Berbeda dengan sayur impor," katanya.
Hansje Monintja mengungkapkan, sebelas produk holtikultura yang menjadi andalan kecamatannya. Sebelas tanaman dapat hidup dan berproduksi tinggi sepanjang tahun. Tanaman kentang, wortel, bawang daun menjadi favorit.
Akan tetapi masih banyak tanaman lain hidup dan tumbuh baik antara lain, tomat, kubis, sawi, cabai keriting, ubi jalar, jahe, buncis dan labu.
Dari sebelas jenis holtikultura itu, Kecamatan Modoinding menikmati uang setiap tahun sekitar Rp 355 miliar. Produksi kentang setiap tahun mencapai 37.184 ton dengan luas areal tanaman 2.656.
Apabila harga kentang sekitar Rp 5.000 per kilogram maka uang diperoleh dari kentang saja Rp 185,9 miliar. Pendapatan kentang diikuti pendapatan penjualan bawang daun yang mencapai Rp 116 miliar.
Kecamatan Modoinding terletak di atas ketinggian 1.100 meter dari permukaan laut memiliki luas lahan pertanian 6.086 hektar. Penduduk Modoinding berjumlah 11.570 jiwa tersebar dalam 10 desa.  "Seluruh masyarakat Modoinding hidup dari bertanam sayur," kata Monintja.
  
Editor :
Rusdi Amral
http://regional.kompas.com/read/2013/04/02/0831340/Sayur.Modoinding.Laku.di.Malaysia.dan.Filipina.

Minggu, 22 Juli 2012

Modoinding Akar Sejarah Minahasa


Didorong oleh rasa penasaran mengenai Sejarah Minahasa, maka penulis yang ‘orang kampoeng’ ini dengan bantuan koneksi internet seadanya, melakukan pencarian literatur bantuan yang bisa dijadikan sebagai acuan (setidaknya).

Salah satu yang bisa dimuat adalah yang disadur dari Wikipedia mengenai Sejarah Minahasa. Setelah membaca sekilas, sebagai ‘orang kampoeng’, penulis merasa bangga karena ternyata ‘kampoeng kita’ Modoinding merupakan cikal bakal penting berdirinya / terbentuknya Minahasa.

So, jangan mengaku orang Minahasa kalau kita tidak mengenal Modoinding, ‘kampoeng kita’ yang ternyata bukan hanya dikenal sebagai ‘kampoeng’ dengan berjuta pesona alam, yang limpahi dengan kesuburan tiada tara, tapi juga memang benar-benar ‘sepenggal eden’ di Minahasa, karena dari ‘kampoeng’ inilah kemudian orang Minahasa menyebar untuk mendiami dan mengisi setiap jengkal tanah Minahasa.....   sampai saat ini.

Berikut ini sadurannya :

Minahasa berasal dari kata MINAESA yang berarti persatuan, yang mana zaman dahulu Minahasa juga dikenal dengan nama MALESUNG.

Orang Minahasa dikenal dengan keturunan dari Toar – Lumimuut.

Sekitar abad I (Pertama) pemukiman leluhur terlebih dahulu berdiam di sekitar pesisir Likupang, lalu berpindah ke Pegunungan Wulur Mahatus (Modoinding), wilayah selatan Minahasa, kemudian berkembang dan berpindah ke Nieutakan (daerah sekitar Tompaso Baru saat ini)

Sejarah Orang Minahasa umumnya ditulis oleh orang-orang asing yang datang ke tanah ini, yang sebagian besar adalah misionaris gereja. Beberapa diantaranya :  Pdt. Schwarsch, J. Albr. Schwarz, Dr. JGF Riedel, Pdt. Wilken, Pdt. J. Wiersma.

Dalam sejarah Minahasa, terdapat tiga tokoh sentral terkait dengan leluhur orang Minahasa, yaitu Lumimuut, Toar, dan Karema.

Karema, dimengerti sebagai ‘manusia langit’, Lumimuut dan Toar adalah leluhur dan cikal bakal dari orang-orang Minahasa.

Kelompok-kelompok awal orang Minahasa ini (yang mendiami wilayah selatan Minahasa) kemudian berkembang biak dan bermigrasi ke beberapa wilayah di tanah Minahasa.
Dalam struktur kehidupan dan tradisi orang Minahasa pada waktu itu dibagi dalam tiga golongan yaitu :

Makarua Siow (2x9) : para pengatur ibadah dan adat
Makatelu Pitu (3x7) : para pengatur pemerintahan
Pasiowan Telu (9x7) : rakyat

Nama Minahasa itu sendiri menjadi lebih populer pada saat orang Minahasa berperang secara sporadis melawan Bolaang Mongondow. Diantara para pahlawan Minahasa dalam perang melawan Mongondow Bolaang adalah : Porong, Wenas, Dumanauw, dan Lengkong (dalam perang dekat desa Lilang), Gerungan, Korengkeng, Walalangi (perang dekat Panasen, Tondano), Wongkar, Sayow, Lumi, dan Worotikan (dalam perang bersama Amurang Bay).

Minahasa secara etimologi yang berasal dari kata Mina dan Esa (Minaesa atau Maesa) yang berarti jadi satu atau menyatukan, maksudnya harapan untuk menyatukan berbagai kelompok sub-etnis yang terdiri dari :

Tontemboan
Tombulu
Tonsea
Tolour (Tondano)
Tonsawang
Ponosakan
Pasan
Bantik

Nama Minahasa sendiri baru digunakan belakangan. Palar mencatat, berdasarkan beberapa dokumen sejarah disebut bahwa pertama kali yang menggunakan kata ‘minahasa’ itu adalah J.D Schierstein, Residen Manado, dalam laporannya kepada Gubernur Maluku pada 08 Oktober 1789. ‘Minahasa’ dalam laporan itu diartikan sebagai Landraad atau ‘Dewan Negeri’ (Dewan Negara) atau juga ‘Dewan Daerah’

Nama Minaesa juga muncul pada perkumpulan para ‘Tonaas’ di Watu Pinawetengan (batu pinabetengan). Nama Minahasa yang dipopulerkan oleh Residen J.D. Schierstein, tanggal 08 Oktober 1789, yaitu sehubungan dengan perdamaian yang telah dilakukan oleh kelompok sub-etnik Bantik dan Tombulu, akibat perang yang dikenal dengan nama ‘Perang Tateli’

Adapun suku Minahasa terdiri dari berbagai anak suku atau Pakasaan yang artinya kesatuan :

Tonsea (meliputi Kabupaten Minahasa Utara, Bitung, dan wilayah Tonsea Lama di Tondano)
Tolour (meliputi Tondano, Kakas, Remboken, Eris, Lembean Timur, dan Kombi)
Tontemboan (meliputi Kabupaten Minahasa Selatan, dan sebagian Kabupaten Minahasa)
Tombulu (meliputi Tomohon, sebagian Kabupaten Minahasa dan Manado)
Tonsawang (meliputi Tombatu, dan Touluaan)
Ponosakan (meliputi Belang)
Pasan (meliputi Ratahan)

Satu-satunya anak suku yang mempunyai wilayah tersebar adalah anak suku Bantik (meliputi Meras, Molas, Bailang, Talawaan Bantik, Bengkol, Buha, Singkil, Malalayang /Minanga, Kalasey, Tanamon, dan Somoit, yang mana wilayah2nya tersebar di perkampungan pantai utara dan barat Sulawesi Utara)

Masing-masing anak suku Minahasa mempunyai bahasa, kosa kata dan dialek yang berbeda-beda namun satu dengan yang lain dapat memahami arti kosa kata tertentu. Misalnya kata Kawanua yang berarti ‘satoe kampoeng’

Jumat, 25 Mei 2012

Sekilas Profil Minahasa Selatan


Kabupaten Minahasa Selatan merupakan kabupaten di Propinsi Sulawesi Utara, dengan Ibukota Amurang.
Hamparan kebun kelapa yang luas menjadi pemandangan utama bagi kabupaten yang dikenal sebagai penghasil kopra terbesar di Sulawesi Utara ini. Tidak hanya itu, kabupaten ini juga mewarisi sebagian sumber daya alam kabupaten induknya (Minahasa), sentra tanaman hortikulturadi Kecamatan Modoinding
Pantai utara membentang dari Kecamatan Tumpaan, Tombasian, Tenga dan Sinonsayang, berbatasan dengan Laut Sulawesi. Keberadaan Teluk Amurang di Kecamatan Tumpaan dan Tombasian merupakan modal pembangunan Pelabuhan Laut Amurang. Letaknya menjorok ke dalam daratan seluas lebih kurang 5.000 hektar dengan kedalaman lebih dari 25 meter. Kondisi itu membuat kawasan ini selalu terlindung dari angin topan dan memiliki keluasan untuk lalu lalang kapal-kapal besar.

Pohon kelapa tumbuh subur di seluruh kecamatan, kecuali Modoinding. Hasilnya melimpah, melahirkan industri-industri pengolahan kelapa menjadi minyak kelapa dan kopra, baik yang berskala kecil maupun besar. Kelapa juga diolah menjadi arang tempurung dan tepung kelapa, bahkan tepung kelapa sudah diekspor ke mancanegara.
Kecamatan Modoinding, lahannya memang tidak dihiasi dengan hijaunya perkebunan kelapa. Namun, areal perbukitannya tetap berwarna hijau oleh tanaman hortikultura seperti kentang, tomat, buncis, cabai, wortel, bawang daun, dan petsai.
Terletak di ketinggian di atas 1.000 m dpl, membuat segala jenis tanaman hortikultura tumbuh subur, bahkan kawasan ini ditetapkan sebagai sentra agropolitan Propinsi Sulawesi Utara.
Kentang sebagai andalan Modoinding, berhasil menembus pasar ekspor mancanegara. Tomat, salak dan rambutan juga menjadi tanaman andalan bagi Minahasa Selatan. Masing-masing komoditas mempunyai kekhasan dalam varietasnya.
Penerimaan PDRB tahun 2003 (menurut harga konstan 2000) mencapai Rp 582,88 milyar. Dari jumlah itu sumbangan terbesar berasal dari sektor pertanian 42,44 persen, pertambangan dan penggalian 13,37 persen, jasa-jasa 9,45 persen, industri pengolahan 8,98 persen, angkutan 7,69 persen, dan perdagangan 7,35 persen.

Potensi pertanian daerah ini cukup memadai untuk tanaman padi, palawija, sayuran dan buah-buahan. Produksi padi sawah dan ladang (2005) mencapai 86.267,3 ton. Sementara hasil tanaman pangan lain adalah; jagung 54.835 ton, sayur-sayuran seperti bawang daun 46.840 ton, kubis 15.800 ton, wortel 8.675 ton, kentang 73.880 ton, dan buah-buahan terutama rambutan 11.517,27 ton, pepaya 13.518 ton, dan mangga 19.493 ton.

Tanaman pangan dari daerah ini dikenal berkualitas, sehingga daerah ini ditetapkan sebagai proyek pengembangan agropolitan, karena hasilnya telah dipasarkan di tingkat nasional bahkan internasional. Kontribusinya dalam meningkatkan pendapatan masyarakat juga memberi dampak positif bagi peningkatkan pendapatan daerah. Hasil tanaman itu terkonsentrasi di Kecamatan Tompaso Baru, Ranoyapo, Tumpaan, dan Tombasian.

Sementara hasil perkebunan juga pegang peranan penting bagi perekonomian di daerah Minahasa Selatan. Komoditi perkebunan yang menjanjikan adalah; kelapa, cengkih, casiavera, kakao, dan kopi. Hasil tanaman kelapa 74.492,72 ton, kopi 89.189,12 ton, kakao 25.835,83 ton, cengkeh 413.498,81 ton, dan casiavera 37.689,50 ton.

Hasil komoditi itu terkonsentrasi di Kecamatan Tompaso Baru, Motoling, Ranoyapo, Tenga, Sinonsayang, Tereran, Mondoinding, Tombasian dan Tumpaan. Selain itu, produksi aren mencapai 99.651 ton, terkonsentrasi di daerah Tareran, Motoling, Kumelembuai dan Touluaan.

Potensi peternakan yang menonjol adalah ternak Sapi, Kuda, Babi, Unggas Ayam dan Itik. Produksi daging sudah dapat memenuhi kebutuhan konsumsi penduduk Minahasa Selatan dan dipasarkan ke daerah lain. Keadaan ini mendukung dalam meningkatkan kesejahteraan masyarakat. Populasi ternak antara lain; Babi 27.205 ekor, Sapi 23.447 ekor, Kambing 22.086 ekor, ternak Unggas Ayam Ras 55.560 ekor, dan Ayam Buras 120.770 ekor.
Sementara hasil perikanan budidaya air tawar mencapai 12.567 ton, dan perikanan laut 18.191,70 ton.
Obyek wisata menarik di daerah ini, antara lain; obyek wisata Sungai Maruasey, terdapat di Desa Tangkuney Kecamatan Tumpaan sekitar 30 Km dari pusat Kota Amurang. Obyek wisata Batu Dinding terdapat di Kecamatan Amurang, batu yang tingginya ±70 m dekat sungai Ranoyapo. Obyek wisata Bukit Doa Pinaling terletak di Desa Pinaling, Kecamatan Amurang Timur, wisatawan dapat merasakan perpaduan antara keindahan alam dan sentuhan religius. Obyek wisata Pantai Moinit yang terletak di sebelah Selatan Kabupaten ini, di antara Desa Teep dan Tawaang Kecamatan Amurang. Daerah Pantai Moinit ini banyak menyimpan aneka-ragam Flora dan Fauna.
Untuk kluster daerah Minahasa Selatan, hasil pertanian dan perkebunan seperti Padi, jagung, sayuran, dan buah-buahan harus menjadi pilihan, termasuk hasil perkebunan seperti; kelapa, cengkeh, kopi, kakao, dan casievera. Ke depan perlu dibangun industri olahan hasil pertanian, perkebunan serta perikanan laut.
Sumber :
http://www.cps-sss.org/web/home/kabupaten/kab/Kabupaten+Minahasa+Selatan

Daftar Blog 'Orang Kampoeng'